
Surabaya – Pernyataan Muhaimin Iskandar alias Cak Imin yang mengaitkan kondisi Nahdlatul Ulama (NU) dengan kepemimpinan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menuai respons dari HMI Cabang Surabaya.
Ketua Umum HMI Cabang Surabaya, Moch Elok Hakan Multazam menilai, pernyataan tersebut tidak tepat karena mencampuradukkan persoalan kepemimpinan seseorang dengan identitas organisasi tempat seseorang pernah berproses.
“Kalau ada persoalan di NU, kritiklah kepemimpinannya, kebijakannya, dan tata kelolanya. Jangan kemudian HMI diseret dan dijadikan penyebab. Itu narasi yang dangkal,”tegas Hakan, dalam rilisnya yang dikirimkan ke redaksi, Senin (31/8/2026)
Menurut Hakan, seorang alumni HMI harus dinilai berdasarkan kapasitas, integritas, serta keputusan yang dibuat ketika menjalankan amanah. Tidak adil apabila setiap persoalan yang melibatkan seorang alumni kemudian dibebankan kepada organisasi yang pernah menjadi tempatnya berproses.
“HMI tidak pernah memberikan mandat kepada setiap alumninya untuk mewakili organisasi dalam setiap jabatan yang mereka duduki. Jadi ketika ada seorang alumni yang memegang jabatan tertentu, jangan kemudian seluruh konsekuensi kebijakannya dibebankan kepada HMI,”ujarnya.
Hakan juga mempertanyakan dasar argumentasi yang digunakan untuk menghubungkan keterpurukan NU dengan HMI.
“Kalau memang ada hubungan sebab-akibat antara HMI dengan keterpurukan NU, silakan tunjukkan datanya. Jangan membangun kesimpulan besar hanya dari latar belakang organisasi seseorang,”kata Hakan.
Ia menegaskan, bahwa HMI tidak sedang berhadap-hadapan dengan NU maupun PMII. HMI, kata dia, tetap menghormati NU sebagai salah satu elemen penting dalam sejarah perjalanan umat dan bangsa Indonesia.
Namun, penghormatan tersebut tidak berarti HMI harus diam ketika identitas organisasinya digeneralisasi dalam sebuah polemik.
“Kami menghormati NU dan PMII. Tetapi kami juga punya hak untuk mengoreksi ketika HMI ditarik-tarik ke dalam persoalan yang tidak menjadi tanggung jawab organisasi kami. Kritik boleh keras, tetapi harus berbasis data dan argumentasi,” tegasnya.
Hakan menilai, sebagai tokoh yang lahir dari tradisi pergerakan mahasiswa, Cak Imin semestinya memahami bahwa perbedaan organisasi tidak boleh dijadikan bahan untuk membangun polarisasi.
“Kita ini sama-sama pernah belajar dari tradisi gerakan mahasiswa. Seharusnya yang kita adu adalah gagasan, bukan identitas organisasi. Jangan sampai HMI dan PMII dipertentangkan hanya karena pernyataan politik,” pungkas Hakan.
HMI Cabang Surabaya meminta polemik tersebut tidak berkembang menjadi konflik antarorganisasi. Menurut Hakan, persoalan kepemimpinan harus diselesaikan melalui evaluasi terhadap kinerja, kebijakan, dan keputusan konkret, bukan dengan mencari kesalahan pada organisasi tempat seseorang pernah berproses.
“Sederhana saja. Kalau pemimpinnya bermasalah, evaluasi pemimpinnya. Kalau kebijakannya keliru, kritik kebijakannya. Jangan salahkan HMI hanya karena seseorang pernah menjadi kader HMI. HMI bukan kambing hitam,” tutupnya. (*)




