Kolaborasi BRIN dan Komisi X DPR RI Gelar Pelatihan Penggunaan AI untuk Optimalkan Produktivitas Jurnalis

oleh -78 Dilihat
Foto teks: Pelatihan Penggunaan AI.

Surabaya – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) menggelar Pelatihan Penggunaan AI, khususnya para jurnalis di Kota Surabaya, Sabtu (17/10/2026) pagi.

Kegiatan tersebut bertempat di Rich Palace Hotel, Jl. HR Muhammad, Surabaya, bertujuan untuk memaksimalkan hasil riset yang telah dilakukan oleh BRIN agar dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh berbagai para jurnalis khususnya dan elemen masyarakat lainnya.

Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Anggota Komisi X DPR Ri, Dr. Reni Astuti, S.Si., M.PSDM, Ketua POKJA Jurnalis Dewan Surabaya (Judes), Inyong Maulana, nara sumber utama dari BRIN, Prof. Dr. Hanif Fakhurroja, s.Si., M.T., hadir pula dewan penasehat dari SMSI Kota Surabaya, serta segenap wartawan Pokja Judes, serta para wartawan SMSI Kota Surabaya. Praktis acara ini diikuti lebih dari 50 orang wartawan Kota Surabaya.

Dalam sambutannya, Dr. Reni Astuti, menekankan betapa besar kontribusi dan peran kerja jurnalis dalam mengawal pembangunan bangsa, terutama di era digital saat ini.

“Pembangunan sebuah kota sangat dipengaruhi oleh keberadaan serta peran aktif para jurnalis. Terlebih saat ini, di mana platform digital  berkembang pesat, semua orang memiliki wadah dan gajet untuk mendokumentasikan serta membagikan informasi secara luas,” tuturnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Hanif dalam pemaparannya menyampaikan materi mendalam mengenai pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan bagi dunia jurnalistik dan sektor lainnya.

Ia menjelaskan bahwa AI memiliki berbagai jenis dan fungsi yang dapat membantu meringankan pekerjaan jurnalis, seperti transkrip wawancara otomatis, penyuntingan teks, hingga pembuatan ringkasan berita.

Namun demikian, Prof. Hanif mengingatkan para jurnalis agar tetap bijak dan beretika dalam menggunakan teknologi AI. Penggunaan AI harus diposisikan sebagai mitra diskusi atau alat bantu untuk meningkatkan produktivitas, bukan sepenuhnya menggantikan verifikasi fakta secara mandiri.

“Jurnalis tetap harus memegang teguh kaidah jurnalistik dan menghindari pelanggaran kode etik, seperti menyebarkan hoaks atau konten hasil AI yang tidak terverifikasi,” tuturnya.

Melalui kegiatan sinergi ini, diharapkan para jurnalis di Surabaya dapat semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi, sehingga mampu meningkatkan kualitas karya jurnalistik sekaligus mendukung kemajuan pembangunan di Kota Surabaya. (irw/dha)