beritasurabayaonline.net
Sospol

Komisi D Minta Dua Korban Perosotan yang Masih Dirawat Butuh Pedamping Psikolog

Surabaya – Komisi D DPRD Surabaya kembali menggelar rapat koordinasi Rabu (25/05/2022) terkait insiden Waterpark Kenjeran.

Ketua Komisi D Khusnul Khotimah meminta pertama untuk dua orang anak yang saat ini masih dalam proses pengobatan di rumah sakit Graha Amertha.

“Itu mohon untuk didampingi oleh psikolog dari pemerintah kota Surabaya dan juga didampingi oleh psikolog dari rumah sakit itu,” ujar Khusnul Khotimah usai rapat

Karena, menurut legislator PDIP ini, dua orang anak tersebut membutuhkan penguatan termasuk juga untuk  keluarganya

“Karena kan yang menunggu keluarganya,” katanya

Tiga pekan lalu, Khusnul mengaku datang menjenguk dua orang anak itu yang dirasa kemungkinan terlihat kesepian.

“Karena di (Dua anak red) itu sama kakaknya,” ungkapnya

Untuk itu, menurut Khusnul, dibutuhkan pendampingan dua arah baik itu dari pemerintah kota Surabaya maupun dari rumah sakit.

“Cuma tadi kok kendalanya tidak boleh masuk ke sana oleh dokternya katanya pak tomi tadi,” katanya

Oleh karena itu, Khusnul meminta agar bisa berkoordinasi karena pengobatan tidak hanya dari segi fisik tetapi juga di dalam

“Apalagi anak berinisial SA itu sensor motoriknya terkena, sehingga butuh pengobatan luar dalam yang menurut saya harus dilakukan,” tuturnya.

Kedua, kata Khusnul, komisi D mempunyai cacatan sambil menunggu labotiorium tim forensik yang dilakukan oleh pihak kepolisian

“Maka ada suatu saat harapan harapan sebagaimana yang disampaikan oleh warga disana itu bisa dibuka kembali setelah proses semuanya selesai,” katanya

Tentunya, menurut Khusnul, mereka akan berbenah sekitar dua atau tiga tahun lagi diharapkan SOP dan K3 nya dipersiapkan betul.

“Termasuk tiket yang disampaikan oleh mereka ternyata itu tidak dimunculkan karena berbasis digital termasuk asuransi dan pajak ternyata memakai komputerisasi yang kita baru tahu,” katanya

Terkait dengan asuransi, lanjut Khusnul, komisi D juga mengundang pihak asuransi bahwa mereka mendapatkan tanggungan maksimal 300 juta.

“Maka saya kira tidak sekedar asuransi saja, tapi juga bagaimana anak anak ini bisa segera bangkit tumbuh berkembang dan bisa beraktifitas sebagaimana mestinya,” katanya

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Tomi Ardiyanto mengatakan, rapat komisi D fokus kepada pengelola.

“Baik itu terkait perbaikan fasilitas dan SOP nya seperti itu, sedangkan kami terkait 14 (korban red) sudah pulang tinggal 2 yang masih di rumah sakit Graha Amertha,” ujarnya

Arahan dari ketua Komisi D, kata Tomi, diperintah untuk melakukan koordinasi dengan rumah sakit Dr Soetomo

“Karena sekarang (2 korban red) ini di Graha Amertha,” katanya.

Untuk itu, pihaknya melakukan kerja sama untuk pendampingan trauma healingnya

“Itu kita bisa membantu pihak rumah sakit Dr Soetomo untuk 2 korban itu,” terang Tomi.

Sementara itu, Owners Waterpark Kenjeran PT Granting Jaya Kenjeran Setiadji Yudho mengaku sangat senang karena apa yang diutarakan oleh komisi D sangat konskruktif untuk ke depan dan memberi semangat kepadanya sebagai pengusaha untuk bekerja lebih baik

“Terutama berkaitan dengan spirit yang dibangun agar kedepan menjadi satu tempat rekreasi lebih dari sebelumnya,” katanya kami juga menekankan kepada tim operasional agar bekerja lebih profesional,” katanya

Terkait pembiayaan korban, Setiadji menjelaskan, walaupun sudah dicover oleh ansuransi yang dipastikan jauh lebih kecil dari jumlah seluruh biaya yang sudah dikeluarkan oleh perusahaan

“Namun itu sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan mulai biaya pengobatan sampai perawatan,” katanya

Bahkan, kata Setiadji, juga santunan yang dirasa momentum bagi secara pribadi juga perusahaan yang ditemukan warga yang menjadi korban insiden

“Saya menemukan korban anak anak yang masih punya masa depan panjang jadi ada atensi khusus kami kepada keluarga korban yang golongan kurang mampu jadi saya akan atensi khusus perhatian pada pendidikan masa depan mereka,” ungkapnya

Karena itu, Setiadji berharap mudah mudahan apa yang dicita citakan untuk membangun kebersamaan dalam nilai sosial kepada masyarakat akan terwujud

“Mudah mudahan yang menjadi korban besok menjadi orang besar itu juga menjadi nilai khusus buat kami,” tuturnya

Terkait tiket Waterpark Kenjeran belum dicatumkan asuransi, Setiadji enggan menjawab, tetapi tim operasional yang bisa menjawab.

“Nanti itu yang bisa menjawab tim operasional karena agak beda sistimnya,,” katanya.

Sistim, menurut Setiadji, kalau dahulu menggunakan cetak tetapi sekarang dengan sistim barcode atau komputer.

“Kalau dulu pakai cetak, tapi sekarang dengan sistim barcode atau komputer,” tutupnya.   (irw)

Berita Terkait