
Surabaya – Anggota komisi B DPRD Kota Surabaya Baktiono menyebut bahwa sengketa hukum PT Unicomindo dengan pemerintah kota (Pemkot) senilai 104 miliar adalah kasus lama
“Ini kan kasus lama Unicomindo dulu ingin mengelola sampah yang dibakar bernama incinerator,” katanya usai rapat dengan pendapat, Senin (13/4/2026) siang
Permasalahan tersebut, menurut legislator PDIP ini, sejak zaman orde baru, berdasarkan informasi bahwa pembelian incinerator
“Melalui pak Purnomo Kasidi dan operasionalnya melalui pak Narto,” ujarnya.
Baktiono menceritakan, bahwa. pihaknya waktu itu mendengar sendiri hingga sampai menjadi anggota DPRD Kota Surabaya.
“Alat (Incinerator) tersebut tidak bisa di operasionalkan, itu yang saya dengar seperti itu,” ungkapnya.
Baktiono mengungkapkan pada akhirnya sampai terjadi perselisihan hingga resesi kurs dolar Rp 2000 hingga meningkat sampai ke miliaran rupiah.
“Cak Narto luar biasa seperti itu yang mengaku keturunan Sawunggaling yang berani segalanya itu aja enggak mau bayar,” katanya.
Sehingga, lanjut Baktiono, akhirnya alat Incinerator tidak pernah sama sekali di operasionalkan sejak wali kota Bambang DH
“Sampai wali kota Bu Risma bahkan kejadiannya setiap periode pasti ada, baik untuk tagihan maupun apa pun, sampai seperti itu,” katanya.
Selain itu, Baktiono menyebut ada juga permasalahan internal yang ada di Unicomindo dan nanti akan diterangkan oleh pejabat pejabat waktu itu
“Makanya kita jangan sampai salah untuk membuat keputusan dan kebijakan,” tuturnya.
Apalagi sekarang ini, Baktiono mengatakan bahwa putusannya sampai 100 miliar dan pihaknya menilai ini tidak sedikit.
Karena apa, menurutnya pemkot Surabaya sampai sekarang defisit bahkan sampai meminjam ke bank Jatim
“Oleh karena itu kita harus hari hati dalam keputusan ini, harus tahu sejarahnya seperti apa, agar tidak salah langkah,” tuturnya.
Untuk itu, Baktiono mengusulkan rapat selanjutnya mengundang pejabat dan wali kota yang ebelumnya agar menceritakan apa adanya.
“Terkait permasalahan incinerator sejak tahun 1990 – an itu, seperti apa,” pungkasnya. (irw)




