
Surabaya – Anak muda tidak cukup hanya didengar saat dibutuhkan. Mereka juga perlu diberi ruang untuk berbicara, menyampaikan kritik, bahkan mempertanyakan arah kebijakan. Semangat inilah yang mewarnai Merah Muda Fest: Merah Berani, Muda Beraksi, yang digelar DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, Minggu malam (25/10/2026).
Menyongsong 100 Tahun Sumpah Pemuda, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan bagi anak muda untuk menyalurkan kreativitas, bertukar gagasan, sekaligus menyuarakan keresahan tentang kondisi politik dan masa depan kota.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, Armuji, secara langsung membuka acara dengan mengajak generasi muda untuk tidak ragu menyampaikan pendapat. Baginya, keberanian berbicara dan kebebasan mengkritik menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan demokrasi yang sehat.
“Waktunya anak Surabaya speak up. Sumpah Pemuda ini hari kalian semua. Silakan sampaikan ide kalian, apa pun gagasan anak-anak muda. PDI Perjuangan Surabaya akan memfasilitasi,” ujar Armuji.
Wakil Wali Kota Surabaya yang dikenal lugas itu bahkan secara terbuka mempersilakan anak muda melontarkan kritik tanpa rasa takut.
“Silakan kalian mengkritisi, kami akan mendengar dan tidak ada intimidasi. Wes gak jamane, rek!” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan utama Merah Muda Fest. Bahwa ruang politik semestinya bukan hanya milik mereka yang sudah lama berkecimpung di dalamnya, tetapi juga terbuka bagi generasi muda yang membawa perspektif, kegelisahan, dan harapan baru.
Dari Panggung Kreativitas hingga Obrolan Politik.
Suasana Merah Muda Fest berlangsung semarak melalui berbagai agenda, mulai dari penampilan musik langsung, art performance, stand-up comedy bersama Dinosaur, hingga live podcast yang menghadirkan Armuji dan Eri Irawan sebagai narasumber dengan dipandu Elni Nainggolan.
Elni, Wakil Ketua Bidang Media DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, menghidupkan perbincangan dengan memancing keberanian peserta untuk menyampaikan pandangan. Obrolan pun berkembang dari gerakan aksi hingga polemik ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang menjadi salah satu topik diskusi politik nasional.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi podcast yang dihadiri anak-anak muda dan kader baru PDI Perjuangan. Candaan khas Armuji turut mencairkan suasana, membuat diskusi politik terasa lebih santai tanpa kehilangan substansinya.
Selain Armuji, kegiatan tersebut juga dihadiri Ketua Komisi C DPRD Surabaya Eri Irawan, Bendahara DPC PDI Perjuangan Surabaya Agatha Retnosari, Wakil Ketua Bidang Kepemudaan Khusnul Khotimah, Gus Teguh dari bidang kerohanian, serta sejumlah fungsionaris lainnya.
Armuji menjelaskan, peserta kegiatan ini antara lain berasal dari kalangan anak muda yang sebelumnya mengikuti sekolah partai yang diselenggarakan DPD PDI Perjuangan. Dari Surabaya, terdapat 18 peserta yang dinilai memiliki ketertarikan untuk mengenal lebih jauh dunia politik dan perjuangan partai.
Menurut dia, keterlibatan anak muda tidak boleh berhenti pada kehadiran dalam sebuah acara. Mereka perlu dilibatkan secara berkelanjutan dalam berbagai kegiatan dan agenda kepartaian.
“Anak-anak muda ini nantinya menjadi ujung tombak bangsa. Karena itu, mereka harus selalu kita ikutkan dalam setiap kegiatan maupun agenda kepartaian,” ungkapnya.
Armuji juga menyebut, sesi podcast bersama anggota DPRD menjadi sarana bagi generasi muda untuk memahami lebih jauh tugas dan fungsi wakil rakyat.

Sementara itu, keterlibatannya sebagai narasumber diharapkan bisa membuka ruang dialog mengenai pemerintahan dan pembangunan Kota Surabaya.
Kantor Partai Ingin Menjadi Rumah bagi Anak Muda.
Di balik kemeriahan panggung dan perbincangan politik, Merah Muda Fest membawa gagasan yang lebih luas: menghadirkan kantor partai sebagai ruang terbuka bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Elni Nainggolan mengatakan, kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk memperkenalkan bahwa kantor PDI Perjuangan Surabaya dapat dimanfaatkan sebagai tempat berkegiatan, berkreasi, dan menyampaikan aspirasi.
“Intinya, ini momentum Sumpah Pemuda sebagai wujud komitmen bahwa kantor PDI Perjuangan adalah rumah untuk semua kalangan, apalagi anak muda,” ujarnya.
Ke depan, DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya berencana menghidupkan kembali balai kreasi dan mengembangkan berbagai inovasi, termasuk podcast serta forum diskusi yang melibatkan anak muda.
Merah Muda Fest pun direncanakan menjadi kegiatan rutin setiap Rabu. Dengan pola berkelanjutan, aspirasi yang muncul diharapkan tidak berhenti sebagai percakapan sesaat, melainkan dapat ditampung, ditindaklanjuti, dan dikawal bersama.
“Jangan cuma sekali datang, terus menyuarakan aspirasi, tapi setelah itu hilang. Kami ingin ini dikawal terus-menerus. Forum ini menjadi rutin supaya kedekatan anak muda dengan PDI Perjuangan semakin kuat,” jelas Elni.
Dia juga menyoroti pentingnya memastikan anak muda dapat mengakses berbagai program dan fasilitas yang telah disediakan pemerintah kota.
Menurutnya, pembangunan dan kebijakan yang ditujukan bagi generasi muda perlu diimbangi dengan keterlibatan aktif mereka dalam mengawal pelaksanaannya.
Sebab, ruang dan program yang tersedia akan lebih bermakna apabila benar-benar diketahui, dijangkau, dan dimanfaatkan oleh mereka yang menjadi sasaran.
Sumpah Pemuda Tak Cukup Dirayakan, Harus Dihidupkan.
Merah Muda Fest merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menyongsong 100 Tahun Sumpah Pemuda. Sebelumnya, kegiatan diawali dengan aksi bersih-bersih pantai. Agenda berikutnya direncanakan mencakup kegiatan pendakian Gunung Penanggungan melalui kolaborasi dengan Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Mojokerto.
Rangkaian tersebut dirancang untuk memadukan kepedulian lingkungan, kreativitas, kebersamaan, dan keberanian menyuarakan gagasan.
Pada akhirnya, semangat Sumpah Pemuda bukan sekadar mengenang ikrar yang lahir pada 1928. Semangat itu juga perlu diterjemahkan menjadi kesempatan nyata bagi generasi muda untuk berpartisipasi, mengawasi kebijakan, serta ikut menentukan arah pembangunan.
Di tengah dinamika politik yang kerap terasa jauh dari kehidupan sehari-hari, ruang dialog seperti Merah Muda Fest membuka peluang agar anak muda tidak hanya menjadi penonton.
Sebab, generasi muda tidak selalu membutuhkan panggung untuk sekadar tampil. Mereka juga membutuhkan ruang untuk bertanya, berbeda pendapat, menyampaikan kritik, dan memastikan bahwa suara mereka benar-benar diperhitungkan. (*)




