beritasurabayaonline.net
Hukrim

Pengadilan Negeri Surabaya Eksekusi Rumah Perwira Polisi

Surabaya – Melalui juru sita Fery Isyono, Pengadilan Negeri Surabaya, melakukan eksekusi pengosongan rumah di Jalan Sidosermo PDK V/ 377, Surabaya, Rabu (24/8/2022) pagi.

Juru sita Pengadilan Negeri Surabaya didampingi anggota Polrestabes Surabaya, melakukan eksekusi ini, sempat diwarnai perlawanan dari pihak termohon eksekusi dari keluarga seorang perwira polisi Ipda Ni Putu Lucke Savitri Maharani, Anggota Polda Jawa Timur sebagai dokter kesehatan (Dokes)

Bahkan, sejumlah pemuda ormas, yang datang di lokasi eksekusi, langsung di usir oleh petugas Polrestabes Surabaya, yang melakukan pengamanan. Petugas juga mengamankan keluarga yang menghalang halangi jalani eksekusi.

Bahkan untuk masuk ke rumah, guna melakukan pengosongan petugas eksekusi, harus membuka gembok dan rantai pagar yang dipasang. Agar eksekusi  pengosongan tak terjadi. Namun petugas tetap membongkarnya, Setelah gembok pagar berhasil dibongkar baru petugas mengeluarkan seluruh isi rumah.

“Kami menjalankan amar putusan dari pengadilan negeri untuk melakukan penosongan rumah ini sesuai penetapan yang, telah tertulis dalam amar putusan 375,PDT.G,2011,PN.SBY. Kami hanya menjalan materi tanpa membuka materi perkara, enggak ada perlawan tetapi  mereka mempertahankan haknya tapi intinya obyek dan alamat tetap satu berdasarkan sertifikat,” terang Fery Isyono.

Sementara itu, Sumarso kuasa hukum dari pemohon eksekusi, bernama feryna juliani menjelaskan, bahwa rumah ini telah dibeli kliennya sejak 2009, dengan harga Rp 550 juta, dari Fandriyani atau Nie Lien.

Setelah uang di bayar 70 persen, penjual berjanji akan memberikan sertifikatnya. Namun, pada kenyataannya oleh  Fandriyani, rumah tersebut di jual lagi ke orang lain bernama Faturosyid, dengan harga Rp 450 juta.

Kemudian pada tahun 2015, fatchurrozi menjualnya kembali ke Ni Putu Lucke Savitri Maharani, dengan harga sekitar Rp 1  miliyar. dan rumah ini telah di huninya selama 7 tahun.

“Kasus ini, berawal dari klien kami beli rumah dengan harga 550 juta namun sertifikatnya tak diberikan malah di jual ke orang lain dengan harga 450 juta selanjutnya di jual kembali ke ibu ini, Padahal kami sudah melakukan pemblokiran saat sengkta ini bergulir di  BPN tetapi kok masih bisa lolos, dan sertifikat bisa balik nama.” Jelas Sumarso usai melakukan eksekusi.

Sedangkan pihak tereksekusi, merasa dizalimi, mereka mengaku membeli rumah ini dengan baik-baik lengkap dengan akta notaris, dan sertifikat hak milik yang telah diatasnamakan Ni Putu Lucke Savitri Maharani. Namun, pihak eksekusi pengadilan negeri tidak menghiraukan, dan tetap melakukan eksekusi. karena itu, pihaknya akan menempuh jalur hukum atas kejadian ini.

“Atas kejadian ini, kami akan melakukan upaya hukum, kami tak mau melakukan perlawan secara fisik. Ini kan kalau dibaca amar putusanya, anak saya bukan termasuk dalan tergugat dalam perkara itu. Inikan harus di perjelas.” Terang I Made Sukarta orang tua Ni Putu Lucke Savitri Maharani.

Kasus ini, telah tertulis dalam amar putusan 375,PDT.G,2011,PN.SBY. Setelah dieksekusi pihak termohon tak bisa berbuat banyak  dan barang barang di dalam rumah diangkut ke dalam truk, untuk diamankan.    (bro)

Baca juga