DPRD Surabaya Dorong DP3AK Lakukan Pendampingan Pasca Siswa Diduga Keracunan MBG

oleh -42 Dilihat
Foto teks: (Kiri) Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Arif Fathoni.

Surabaya – Rapat dengar pendapat (RDP) yang digelar Komisi D dipimpin oleh  Arif Fathoni Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya di lantai 3 ruang paripurna, Rabu (13/5/2026) siang.

Rapat tersebut tindaklanjut kasus dugaan keracunan yang menimpa siswa sekolah di kawasan tembok dukuh setelah mengkonsumsi makan bergizi gratis (MBG)

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Arif Fathoni mengatakan dirinya mendapat perintah dari ketua DPRD untuk memimpin rapat komisi D

“Terkait dengan musibah yang menimpa anak anak kami atas peristiwa keracunan kemarin itu,” kata Arif Fathoni akrab disapa Mas Thoni usai rapat.

Mas Thoni mengungkapkan dalam  rapat, dinas kesehatan menemukan  hasil pengecekan di lapangan ada ketidaklayakan dapur SPPG terkait kehigienisan

“Tadi temuan temuan dari dinas kesehatan itu ada gambarnya visual,” terangnya.

Mas Thoni mencontohkan temuan tersebut  mulai dari saluran pembuangan yang berpotensi menimbulkan virus.

“Dan pemprosesan daging beku itu mestinya menunggu minimal 2 jam baru bisa diproses dan lain sebagainya,” katanya.

Maka itu, pihaknya menekankan bahwa bagaimana siswa dari 13 sekolahan agar tidak mengalami trauma.

Menurut legislator Golkar ini MBG sejatinya adalah program mulia untuk investasi SDM jangka panjang.

“Makanya kami berharap DP3AK melakukan pendampingan agar tidak terjadi trauma di lingkungan siswa penerima manfaat MBG ini,” tuturnya.

Lanjut Mas Thoni, dalam rapat BGN menyampaikan akan mensuspend operasional SPPG sampai memiliki kelayakan bangunan untuk menyediakan makan bergizi gratis bagi penerima manfaat.

“Dan tadi pak menteri HAM juga menyampaikan bahwa (SPPG) ini harus ditutup sementara operasionalisasinya,” imbuhnya.

Menurut Mas Thoni, karena jangan sampai kemudian peristiwa semacam  itu bisa mengganggu keberlanjutan program.

Oleh karena itu, pihaknya berharap SPPG SPPG di kota Surabaya harus juga melakukan pengecekan secara komperhensif terhadap semua eko sistem pemenuhan makan bergizi gratis.

“Agar peristiwa di kota Surabaya ini menjadi pertama dan yang terakhir agar tidak menimpa anak anak kita di masa yang akan datang,” pinta Mas Thoni.

Pihaknya juga berharap BGN mulai memikirkan tenaga operasionalisasi di sekolah jangan sampai guru yang bertugas mendidik

“Kemudian di waktu istirahatnya itu habis dipakai untuk membagikan maupun merapikan makanan (MBG) itu,” tutur Mas Thoni.

Menurut ia karena guru memiliki tugas mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Mungkin disela sela istirahat guru juga membaca kembali literatur yang dimilki untuk diajarkan ke peserta didik,” pungkasnya. (irw)