Acara Silatbar Ke 6, Wali Kota Risma Bahas Soal Pendidikan Hingga Ketertiban Umum

oleh

Surabaya – Acara pertemuan Silaturahmi Akbar Arek-Arek Surabaya (Silatbar) Ke-6 bertajuk ”Arek Suroboyo Jalin Persatuan, Kesatuan, Memperkokoh NKRI” dihadiri Wali Kota surabaya dan sejumlah elemen kalangan pemuda di prakarsai oleh Organisasi Pemuda Pusura.

Dalam pertemuan silaturahmi kali ini, lebih banyak fokus dalam hal pendidikan warga Surabaya, mulai dari pendidikan, perilaku, karakter, hingga anak putus sekolah mendapatkan perhatian oleh Wali Kota Surabaya.

Menurut Risma, pemahaman tentang budi pekerti, sudah disiapkan Pemkot Surabaya di tiap sekolah SD dan SMP d Surabaya. Namun, untuk perihal pendidikan karakter, Risma menganggap tidak semudah itu untuk mengubah karakter anak beserta orang tuanya.

Dalam kesempatan ini, Wali Kota Surabaya juga menjelaskan dengan serius permasalahan penerimaan siswa sekolah baru tingkat SMP. Menurut Risma, adanya temuan ijazah anak ditahan di sekolah, hingga akhirnya adanya siswa putus sekolah karena tidak bisa bayar sekolah, membuat Wali Kota memutuskan untuk tangani sendiri.

“Jika membahas perihal anak – anak putus sekolah, saya membayangkan bagaimana jika nasib saya seperti mereka. Banyak sekali anak putus sekolah dari sma,” ujar Wali Kota Surabaya.

Diskusi pun berjalan menarik, membuat Wali Kota memutuskan untuk memperpanjang diskusi membahas tentang pendidikan.

“Saya memutuskan minta tambahan waktu untuk membahas pendidikan, karena semua elemen masyarakat fokus disana karena anak-anak lah yang meneruskan semua yang kita kerjakan,” ujar Risma.

Sebagai bagian dari pendidikan, Risma juga mengajak para pemuda yang hadir untuk ikut dalam program pejuang muda sebaga sarana untuk berbisnis.

Tidak hanya masalah pendidikan, masalah ketertiban umum juga dibahas dalam diskusi ini. Salah satu yang menjadi perhatian adalah parkir tepi jalan umum yang membuat kemacetan. Didik, salah satu komunitas sepeda motor menyampaikan, parkir di rumah sakit kawasan ampel dan tambak rejo sering kali bermasalah membuat kemacetan.

Untuk itu, Risma menjelaskan bahwa keterbatasan petugas di lapangan membuat penindakan di lapangan tidak bisa maksimal. “Petugas kta sangat terbatas sehingga tidak bisa sepenuhnya menangani, itu sebabnya partisipasi warga dalam menangani hal ini,” katanya.

Bahkan, kata Risma, untuk membenahi parkir di Jalan Pemuda, dirinya sering turun sendiri. Hal itu disebabkan karena keterbatasan petugas di lapangan. Dalam kesempatan yang sama, Risma juga menjelaskan larangan parkir kendaraan di depan rumah. Menurutnya, itu juga mengganggu jika ada masalah.

“Di kawasan Mulyorejo, mobil PMK susah untuk masuk dengan cepat karena banyak mobil yang diparkir depan rumah, padahal mobil PMK kan harusnya cepat sampai di lokasi,” katanya.

Pertemuan bertajuk Silahturami Akbar Arek – Arek Surabaya ini mempunyai tujuan tersendiri bagi Wali Kota Surabaya. Dengan adanya acara ini, kita temukan frame yang sama, sehingga kita bisa bersama menjaga Surabaya.

“Memang seharusnya pertemuan ini tidak hanya sekali dalam setahun, agar bisa jaga kondusivitas kota,” kata Wali Kota Surabaya.

Hal senada juga disampaikan oleh Hamka, Wakil Ketua Pemuda Pusura, menurutnya acara ini bertujuan untuk menjaga kondusifitas kota.

“Harapannya kita bsa antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan agar ada kesepemahaman antar ormas sehingga bisa menjaga kondusifitas kota, terkendali dan aman,” kata Hamka. (red/hum)